Sejarah Desa

JATI DIRI ASAL DESA PLUMBON

KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO

 

 

KATA  PENGANTAR

 

Dengan ini saya memberanikan diri untuk menyusun sebuah Riwayat singkat asal terjadinya sebuah desa / dukuh kecil, yang mana sampai sekarang masih ada dengan nama dukuh Karang Tunggon, Desa Plumbon maupun Dukuh Sonosewu dan  Mojolaban Kesemuanya itu satu sama lain berkaitan dengan adanya petikan Sejarah Perpindahan Kerajaan KARTASURA ke Desa SOLO yang sekarang bernama kerajaan SURAKARTA HADININGRAT ( KRATON SOLO ).

Adapun semua ini kami ambil dari catatan Sejarah yang ada di Balai Pustaka Kraton Surakarta, maupun dari catatan : R.M. Riyo Yosodipuro abdidalem sentono di Kraton Surakarta,

Juga saya berani menyusun sedemikian  ini dikarenakan  Eyang  saya

  1. Tumenggung Honggowongso ke I yang juga terlibat dalam menjalankan tugas HANITIK BUMI untuk perpindahan  Kraton tersebut.

Semoga andaran / penulisan saya ini dapat menjadi reno hing penggalih, bila ada yang kurang memuaskan saya mohon diberi maaf yang sebesar- besarnya.,nuwun.

 

 

 

 

Karang , 14   September  1995.

Hormat saya / Penyusun

                                                  R.SUDIYOKO  DIRGOATMOJO.

 

PETIKAN SEMPALAN SEJARAH TERJADINYA DESA / DUKUH.:

KARANG , TUNGGON, PLUMBON, SONOSEWU dan MOJOLABAN.

 

 

Pada waktu itu sekitar tahun 1697 Masehi  terjadilah perang besar di Kerajaan Kartasura , orang – orang Cina yang dipimpin oleh R.M. Garendi dan dibuntuti oleh TAN SWI LING merobohkan pemerintah Kraton Kartasura.

Maha Raja Sinuwun Susuhunan P.B. Ke II terpaksa melarikan diri menuju ke timur lewat desa Pajang , Laweyan terus ke Madura untuk menemui Hadipati Cakraningrat.

Setelah beberapa waktu menyusun kekuatan, maka Hadipati Cakraningrat dengan prajuritnya berangkat menyerang ke Kartasura.

R.M.Garensi yang bias merebut kekuasaan Kartasura telah menjadi Raja dengan nama : SINUWUN  SUNAN  KUNING, dibelakangnya para prajurit Cina.

Sunan Kuning berdiri di Kartasura sekitar  tahun  1738 M hingga tahun  1741 M , berarti antara 3 (tiga) tahun jumeneng.

Pada Tahun Masehi  1741. Kartasura bedah karena perang dengan  Hadipati Cakraningrat dari Madura, balatentara Tan Swi Ling musnah,Sunan Kuning lari ke Semarang dan akhirnya meninggal.

Hingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan PB.II kembali ke Kartasura.

Setelah mengadakan upacara – upacara syukuran maka Parentah Sri Raja untuk mengadakan rapat besar membahas keadaan Kraton yang kelihatan sudah banyak yang rusak. Maka dawuh dalem , perintah kepada : Pangeran WIJIL , Kyai Kaliph Buyud, Pengulu Pekik Ibramhim dan  R. Tumenggung Tirtoguna kesemuanya berangkat ke timur untuk HANITIK BUMI guna perpindahan Kraton. Beberapa waktu  para utusan  tersebut  telah  kembali dengan membawa  Tanah   yang  berbau  Harum ( Wangi) umumnya bernama desa: Talawangi , setelah dipertimbangkan oleh para Nayaka dan Sinuwun maka ternyata kurang cocok untuk sebuah Kerajaan , karena menurut  penyelidikan rasa batin untuk Kerajaan Kurang Luas dan tidak Tentram.

Maka Sinuwun segera utusan lagi : 1.Pangeran Wijil , . Kyai Kalipah Buyud, 3. Pekik Ibrahim, 4. Tumenggung Tirtowiguna , semua berangkat ke timur menuju ke desa SOLO untuk menemui Ki Gede Solo.

 

Sedangkan Sinuwun perintah lagi kepada Abdidalem   R.T.  HONGGOWONGSO, untuk hanitik Bumi  ke Timur Bengawan,  jelas  perintah Paduka Raja , berangkatlah

  1. Tumenggung Honggowongso ke timur Bengawan Solo , juga melewati desa Solo dan Batangan , setelah utusan berangkat maka Sinuwun PB. II. Perintah kepada Nyai Menggung untuk dating ke tempat  R. AYU SEKATI RUKMI ,  ia adalah Garwa Ampil

( Selir ) bertempat di luar Kraton Kartasura, adapun isi perintah dalem : KRATON KARTASURA   bakal  ingsun Pindah,  siro  sak  panderekmu  cacah  rong puluh rakit ( 40 Orang), lan ugo abdimu kang cinaket enggal – enggal  mangkata , hanunggu rawuh ingsun, adedepok ono hing sak wetan Bengawan. maka berangkatlah R.Ny. Sekati Rukmi dengan 40 orang ke timur Bengawan,

Bersama berangkatnya utusan dalem R.T. Honggowongso ke timur Bengawan,juga berangkatnya R.Ay.Sekati Rukmi , garwa ampil hingkang  Sinuwun Kanjeng Susuhunan  P.B. II yang berasal dari putra putrid  Bupati LOWANU Mataram, segera bertempat di sebuah Gubug disitu berdirilah sebuah pohon besar ( Wit Bulu ) dan ada sebuah  mata air kecil ( Belik ) yang airnya bersih dapat mencukupi kebutuhan sehari – hari untuk minum dan mandi, ada pohon Aren satu batang. Belik tersebut bekasnya masih ada, hanya pohonnya sudah mati semua.

Setelah bertempat disitu R.Ay. Sekati Rukmi untuk menunggu kedatangan Sinuwun antara   7  tahun ( Tahun  1741  –  1748 M) ternyata Sinuwun tidak datang Utusan , maka R.Ay. Sekati Rukmi setiap hari tidak mau makan dan malam tidak pernah tidur, duduk berdiam diri seperti batu karang, akhirnya sakit sebelum wafat pernah berkata demikian : Kabeh para pendereku ingsun dawuh marang kowe ingsun trima kasih marang setyamu anderek aku anggon ingsun nenggo rawuh panjenengan dalem Ingkang Sinuwun nganti anjegreg ora obah ora mosik awit anggon ingsun nunggu rawuh dalem nganti kaya watu karang, mulane kabeh para abdiku pada anyeksenono : besuk yen ingsun  wis  ora  ono aku petaken ( kuburen ) ana  sak  wetane  lemah kang

Tak agem lenggah iki, lan papan iki ing rejaning jaman jenengno dukuh / desa ; KARANG TUNGGON, Pada tahun 1741 Masehi .

Kowe kabeh panderek cacah patang puluh , yen pada nututi aku , uga tak parengake kakubur ing sak ngisor pasareanku.

Setelah berkata sedemikian akhirnya R.Ay. Sekati Rukmi meninggal dunia, semua lambat laun juga meninggal dunia disitu, ada seorang abdi tua yang meninggalnya terakhir, sebelum meninggal dia tukang mengurus kuda, berhubung sendirian kuda – kuda tersebut kelaparan akhirnya mati semua dengan kata jawa Pating Glimpung maka tempat tersebut dinamakan  Limpung.

 

 

Perjalanan R.T. HONGGOWONGSO  (Terjadinya desa : PLUMBON ) tahun 1741 M

Setelah sampai di timur Bengawan ,ia merasa bingung mau kemana pergi sudah 7 hari berjalan tetapi belum mendapat Ilham dari Tuhan, terus berjalan meskipun haus dan lapar akhirnya ia kejeglong di sebuah Balumbang yang besar yang penuh dengan pohon – pohon  tumbuh – tumbuhan tales dan Lumbu akhirnya ia berkata : ora nyono yen aku bias kejeglong ing kene, papan kang kebak wit tales lan lumbu , duh Gusti mugi kinabulno ing benjang wonten rejaning jaman papan ngriki kanamekno : DESA PALUMBON,  umumnya sekarang disebut Desa  PLUMBON.  Tahun  Masehi 1741 M

Setelah berkata demikian maka berangkat lagi R.T. Honggowongso ke timur  terlihatlah sebuah hutan kecil di timur penuh di penuhi pohon – pohon ( Wit kayu SONO ) yang sebetulnya secara tidak terlihat oleh mata sebuah Kerajaan Roh Halus dan tempat ular berbisa maka berhentilah R.T. Honggowongso disitu bersemedi guna menitik Bumi selama 40 hari, selesai semedinya mendapatkan Ilham sedemikian : Lemah ing kene iki keno kanggo kraton ananging kurang prayoga awit ing tembe bakal akeh Tuwuh Cecongkrahan  para kawula maka bangunlah dari semedinya R.T.Honggowongso.

Setelah duduk sejenak maka mengambil batu kehendaknya untuk dicipta menjadi sebuah Tugu Mahkota maka terlaksanalah kehendaknya disitu berdiri sebuah tugu kecil bermahkota sebagai tanda Nitik Bumi. Kemudian ia berkata : Duh Gusti ing benjang wonten rejaning jaman papan ngriki katelah nami  dusun : SONO SEWU. Dikarenakan banyak pohon kayu Sono , mungkin seribu atau lebih maka sampai sekarang bernama desa : Sono Sewu.

Kemudian R.T.Honggowongso berangkat ingin kembali ke Kartasura dengan membawa segenggam tanah untuk bukti kepada Sri Paduka Raja , tetapi pulangnya tidak terus menuju ke barat bahkan ketimur sebab ia merasa lapar dan haus , sama sekali belum ada yang dimakan maupun di minum akhirnya ia bertemu seorang petani penjual buah – buahan ia berhenti disebelah barat desa dekat dengan rumah Kyai Konang.

 

-R.T.Honggowongso berkata                          :   Pak mandegko disik kowe dodol opo ? tak tukune aku ngelak …

-Pak Tani berhenti dan menjawa                     :   Niki  sanes buah kok den, buahepun telas, degane ugi pun  telas   sing  kantun niki Woh MOJO.

-RT.Hononggowongso  menjawab                 :   Woh mojo yo ben tak tukune ……

 

Kemudian diaturkan  dan diminum / makan hingga habis satu.

Maka ia berkata demikian                                 :   Pak .. aku trima kasihkaro kowe iki bayare..  anggepen iki bebatenmu tembunge kawi  :Bati iku Laba mula aku pituwas ing kowe besuk yen ana rejaning kahanan papan iki jenengna MOJOLOBO  (sekarang Mojolaban).

Demikian setelah selesai berbincang bincang maka R.Tumenggung Honggowongso berangkat untuk kembali ke Kraton Kartasura guna melapor dari hasil ia di utus untuk  HANITIK BUMI.

Yangakhirnya Kraton tidak jadi Pindah ke Wetan Bengawan tetapi pindah ke desa SOLO dibangun pada tahun 1741 selesai tahun 1745 Masehi

Kraton Surakarta berdiri resmi pada  tanggal  17 Pebruari 1745.

 

 

=====  TAMAT =====

 

 

 

Karang,Plumbon , Mojolaban.

14  September  1995

Penulis

R.SUDIYOKO DIRGOATMOJO.

 

 

Link Tekait